19 Desember 2025

Belum lama ini, terkait literasi kesehatan mental, Organisasi Kesehatan Dunia dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merilis data yang cukup mengagetkan. Satu dari tiga siswa SMA di Indonesia mengalami gangguan kecemasan. Data ini menggambarkan pentingnya literasi kesehatan mental untuk menjadi pelindung kesehatan mental. Literasi ini mencakup pengetahuan mengenai gejala depresi, kemampuan mengatasi stres, batasan normal dan gangguan, serta bagaimana cara mengakses bantuan profesional. Untuk siswa berusia 15-18 tahun, yang mengalami tekanan UTBK, ekspektasi orang tua, bullying di ruang digital, dan ketidaktenangan yang dini, siswa ini harus menguasai literasi kesehatan mental sebagai alat bertahan hidup. Mengapa literasi kesehatan mental penting untuk siswa SMA? Mengingat 70% gangguan mental pada orang dewasa mulai dari remaja (WHO 2024), literasi ini diharapkan dapat mencegah 40 persen bunuh diri remaja. Sayangnya, bunuh diri remaja di Indonesia meningkat 25 persen pasca COVID.
Literasi kesehatan mental tidak hanya berarti mengetahui istilah seperti stres atau depresi, tetapi juga memahami gejalanya, cara mengelola emosi, serta mengetahui kapan dan ke mana harus mencari bantuan. Bagi remaja usia 15–18 tahun, kemampuan ini bukan sekadar teori, melainkan bekal untuk menghadapi tekanan sehari-hari, baik dari sekolah, keluarga, maupun media sosial.
Stres akademik adalah salah satu tekanan paling besar bagi siswa-siswi SMA. Siswa sering mengalami stres mental karena ujian, tugas, dan tekanan persaingan untuk diterima di perguruan tinggi. Dalam konteks akademik, mengenali dan mengelola stres awalnya untuk membantu siswa mengidentifikasi tekanan akademik yang bersifat kronis vs normal. Data Kemendikbud (2025), menunjukkan 55% siswa Kelas XII kehilangan jam tidur karena tekanan tinggi untuk target PTN, dan menunjukkan sejumlah gejala seperti sakit kepala, mudah tersinggung, dan penurunan prestasi. Siswa yang beranggapan “jika saya gagal UTBK, hidup saya berakhir” adalah siswa yang berisiko tinggi, padahal faktanya yang lulus SNMPTN 20%. Literasi mengajarkan teknik restrukturisasi kognitif dari CBT: tantang pikiran negatif dengan fakta, seperti "sekali bukanlah akhir."
Selain tekanan akademik, masalah lain yang cukup serius di kalangan siswa SMA adalah bullying, baik secara langsung maupun di media sosial, telah menjadi masalah yang signifikan. Korban perundungan mungkin menjadi menarik diri dari lingkungan sosial dan menjadi tertekan secara emosional. Kurangnya literasi kesehatan mental memungkinkan siswa untuk percaya bahwa perilaku tersebut adalah kesalahan mereka. Siswa perlu belajar untuk melindungi kesehatan mental mereka dengan menjauh dari media sosial, dan mencari dukungan dari individu yang terpercaya.
Aspek lain dari literasi kesehatan mental adalah membangun ketahanan emosional atau resilien. Ini berlaku bagi siswa yang memiliki pemahaman tentang kesehatan mental, karena mereka lebih mungkin untuk mengatasi tantangan, pulih dari kemunduran, dan mengelola emosi mereka dengan sehat. Mereka memahami manfaat menjaga jadwal tidur, berolahraga, mengelola waktu layar mereka, dan mengambil waktu untuk perawatan diri.
Di sisi lain, bagi beberapa siswa, stigma seputar masalah mental dan kelemahan sepertinya masih salah kaprah. Namun, seakan-akan, ini akan semakin menyulitkan siswa untuk meminta bantuan. Di sisi lain, meskipun begitu, akan ada banyak tantangan, seperti kekurangan tenaga kesehatan mental profesional di sekolah dan banyak orang tua yang juga masih terbatas pengetahuannya. Data yang ada menunjukkan bahwa ini juga masih terjadi pada siswa sekitar 30 sekolah menengah di beberapa daerah.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, meskipun tenaga profesional di sekolah masih terbatas dan masih terbatasnya pemahaman orang tua tentang kesehatan mental remaja, tetap dibutuhkan kerjasama yang lebih erat antara sekolah, orang tua, dan pihak-pihak lain yang relevan. Sekolah memasukkan materi kesehatan mental dalam proses pembelajaran, orang tua dapat menciptakan komunikasi yang terbuka, dan pemanfaatan teknologi dapat digunakan sebagai alat yang mudah diakses untuk kegiatan konseling.
Literasi yang berkaitan dengan kesehatan mental itu, tentu berdampak positif. Siswa yang memiliki kesehatan mental yang baik, akan berpengaruh positif terhadap kesehatan mental. Siswa tersebut akan lebih baik dan optimis dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Siswa yang positif dan seimbang dalam emosi, tidak akan berprestasi di bidang akademis saja, tetapi akan semakin seimbang emosinya dalam menghadapi kehidupan.
Kesimpulannya siswa SMA seharusnya sangat membutuhkan literasi kesehatan mental ini. Siswa akan lebih siap, dan lebih optimis dalam menghadapi urusan mereka. Akan lebih baik, jika mereka tidak segan-segan untuk meminta bantuan kepada orang lain. Siswa dengan jiwa yang sehat, akan lebih baik dalam berkomunikasi serta berinteraksi dengan orang lain. Siswa yang sehat secara mental berdampak positif terhadap sikap dan perilakunya sehari-hari, dan ini akan berdampak positif terhadap kesehatan mental siswa. Sehat secara mental akan menunjang prestasi dan mendukung sikap positif siswa.
Penulis: Anggi Dwi Kartika Putri